KOMUNIKASI ORGANISASI

Komunikasi organisasi merupakan pertukaran pesan dari susunan sejumlah pihak/orang yang memiliki kedudukan atau peranan tertentu. Muhammad (2007: 107) mengkategorikan jaringan komunikasi organisasi menjadi 2 yaitu jaringan komunikasi formal dan jaringan komunikasi interpersonal.

1. Jaringan Komunikasi Formal

Komunikasi ini merupakan pesan yang mengalir berdasarkan jalur resmi yaitu hirarki fungsi pekerjaan. Terdapat 3 bentuk utama arus pesan dalam jaringan komunikasi formal yaitu komunikasi bawahan terhadap atasan, atasan kepada bawahan, dan komunikasi sesama bawahan/karyawan yang sama tingkatnya.

Menurut Gibson et al. (1997: 57), komunikasi formal juga dibagi menjadi komunikasi horizontal, diagonal, dan vertikal.

a. Komunikasi Horizontal (Lateral/Menyamping)

Komunikasi ini merupakan komunikasi yang dilakukan sesama karyawan dengan posisi yang sama/sejajar dalam organisasi, misalnya sama posisi, jabatanatau eselon. Daft (2003: 148) bertujuan untuk menginformasikan untuk mendapatkan dukungan atau koordinasi tugas/kegiatan organisasi. Adanya komunikasi ini dapat menghemat waktu dan mempermudah koordinasi sehingga mempercepat suatu pengambilan langkah/tindakan (Robbins, 1996: 9). Adanya tingkat, latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang hampir sama diantara berbagai pihak yang berkomunikasi dan struktur hirarki formal yang tegas dan ketat.

b. Komunikasi Diagonal

Komunikasi ini dilakukan karyawan dengan karyawan lainnya yang memiliki jabatan/posisi yang berbeda yaitu tidak berada pada jalur strukrur yang sama dan tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain. Saluran komunikasi dalam komunikasi diagonal ini jarang digunakan namun penting jika komunikasi antar anggota tidak dapat dilakukan secara efektif melalui saluran lainnya. Penggunaan komunikasi ini untuk memenuhi kebutuhan dalam lingkungan organisasi untuk mempersingkat waktu dan efektif dalam berbagai upaya yang dilakukan organisasi (Gibson et al., 1977: 59).

c. Komunikasi Vertikal

Komunikasi ini dilakukan antara atasan dengan bawahan dalam organisasi. Robbins (1996: 8) mengemukakan bahwa komunikasi vertikal mengalir dari suatu tingkat dalam organisasi dengan tingkat di atasnya atau tingkat di bawahnya yan dilakukan secara timbal balik. Komunikasi ini menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan suatu organisasi. Stonner dan Freeman (1994: 158) mengemukakan bahwa 2/3 dari komunikasi organisasi dilakukan secara vertikal antara atasan dan bawahan sehingga komunikasi ini sangat penting.

Komunikasi vertikal sendiri memiliki 2 pola yaitu komunikasi ke atas dan komunikasi ke bawah.

2. Jaringan Komunikasi Informal

Komunikasi ini dilakukan tanpa harus memperhatikan hirarki dalam organisasi, yaitu bisa bersifat pribadi. Umumnya merupakan desas desus di lingkungan organisasi dan tidak resmi diumumkan pemimpin organisasi atau yang berkuasa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top
Open chat