TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL DALAM POPULASI PENELITIAN

Mengenai sampel, seperti dijelaskan sebelumnya dalam bab Populasi dan Sampel, populasi bukanlah sasaran penelitian.

Hal ini mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dan dana yang dimiliki peneliti. Dalam penentuan sampel, perlu diperhatikan teknik-teknik yang dapat dipilih oleh peneliti sesuai dengan desain penelitian. 

Teknik pengambilan sampel pada dasarnya terbagi menjadi dua kelompok yaitu teknik pengambilan sampel model probabilitas dan model non-probablitas (Wiyono, 2011: 86).

A. Model Probabilitas

Pengambilan sampel probabilitas adalah metode pemilihan sampel dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Beberapa cara pengambilan sampel dengan metode ini antara lain:

1. Simpel Random Sampling

Dalam teknik ini dikenal dua cara yaitu cara undian dan cara sistematis atau ordinal. Cara undian dilakukan dengan memberi nomor pada seluruh anggota populasi yang kemudian dipilih secara acak sebanyak jumlah sampel yang dibutuhkan. Dengan cara ini maka terdapat dua metode yaitu pengambilan sampel dengan pengembalian dan pengambilan sampel tanpa pengembalian.

Cara sistematis atau ordinal yaitu pemilihan sampel dilakukan secara acak kemudian dilanjutkan dengan menggunakan interval tertentu. 

2. Stratified Sampling

Stratified sampling digunakan untuk populasi dengan dianggap heterogen berdasarkan ciri atau karakteristik tertentu. Populasi yang heterogen dikelompokkan menjadi sub populasi sehingga setiap kelompok memiliki sampel yang relatif homogen. Selanjutnya, setiap sub populasi tersebut diambil sampelnya secara acak yang pada umumnya ditentukan berdasarkan geografis atau cara lainnya. 

3. Cluster Sampling

Teknik cluster sampling memiliki kemiripan dengan stratified sampling. Bedanya jika stratified sampling mengelompokkan populasi heterogen menjadi sub populasi yang cenderung homogen maka cluster sampling sebaliknya. Cluster sampling populasinya dengan sampel yang heterogen dan tidak dapat dilakukan homogenitas. Selanjutnya dari kluster tersebut dipilih secara random. 

4. Area Sampling

Area sampling pada prinsipnya menggunakan perwakilan bertingkat. Populasi dibagi menjadi beberapa sub populasi, kemudian sub populasi tersebut dipecah lagi menjadi populasi yang lebih kecil. Dari bagian populasi terkecil diambil sampel sebagai wakil untuk masuk ke populasi yang lebih besar. Kemudian dari populasi yang lebih besar tersebut akan diambil lagi sampel yang akan digunakan untuk populasi lebih besar selanjutnya, dan seterusnya hingga populasi paling besar. 

5. Double Sampling

Double sampling atau sequential sampling juga dikenal dengan istilah multiphase sampling, yaitu metode sampling dengan cara mengumpulkan sampel berdasarkan sampel yang ada. Sampel awal yang telah diperoleh digali informasinya. Informasi yang sudah diperoleh tersebut menjadi dasar untuk menentukan sampel berikutnya. Misalnya, suatu data responden dikumpulkan dari mail survey. Setelah informasi digali selanjutnya dipilih secara random beberapa untuk diwawancarai lebih detail sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

B. Model Non-Probabilitas

Metode ini merupakan suatu cara pengambilan sampel dimana besarnya peluang anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel tidak diketahui sehingga tidak mungkin menghitung besarnya error dalam estimasi terhadap karakteristik populasi. Dengan metode ini belum tentu semua elemen populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Beberapa cara dengan metode ini antara lain:

1. Judgement Sampling atau Purpose Sampling

Pengambilan sampel dengan judgement atau purpose sampling dilakukan berdasarkan pertimbangan yang sesuai dengan maksud penelitian, artinya sebelum sampel diambil, terlebih dahulu ditentukan batasan-batasan sampel. Contoh, suatu penelitian dilakukan terhadap karyawan BUMN dengan cara menentukan kriteria sampel misalny golongan III ke atas, masa kerja minimal 15 tahun, pernah menjabat kepala seksi dan setingkatnya, dan sebagainya.

2. Quota Sampling

Quota sampling merupakan penentuan sampel berdasarkan kelompok tertentu sebagai sasaran dengan menggunakan quota yang ditetapkan terhadap kelompok tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengkaji fenomena dari beberapa aspek dan responden yang dipilih merupakan orang yang dapat menjawab permasalahan pada aspek-aspek yang ditentukan dalam penelitian.

3. Convenience Sampling

Convenience sampling merupakan teknik yang dianggap paling murah dan dapat dilakukan dengan cepat karena peneliti bebas menentukan sampel dari siapa saja yang ditemui. Akan tetapi sebenarnya metode ini kurang bisa diandalkan. Metode ini lebih tepat digunakan pada tahap awal penelitian sebagai eksplorasi untuk mencari petunjuk dalam penelitian.

4. Snowball Sampling

Snowball sampling dilakukan dengan jumlah sampel kecil. Orang yang terpilih sebagai sampel diminta untuk memilih orang lain sebagai sampel, begitu seterusnya hingga jawaban sampel sudah sama.

5. Sensus

Teknik sensus merupakan metode pengambilan sampel dengan menyertakan keseluruhan anggota populasi. Metode ini dapat dilakukan jika jumlah populasi tidak terlalu besar memungkinkan untuk dilaksanakan baik dari segi pertimbangan waktu, tenaga, dan biaya.  

Berdasarkan uraian di atas, metode probabilitas memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Dengan cara probabilitas maka besaran sampel sudah diketahui sehingga error dalam pengambilan sampel (sampling error) dapat diperkirakan. Probabilitas dianggap lebih berhasil dibandingkan cara kuota sehingga saat ini probabilitas banyak digunakan dalam penelitian karena dianggap lebih layak.

Selain teknik pengambilan sampel, perhitungan sampel juga ada caranya yang biasanya menggunakan rumus berdasarkan jumlah populasi yang ada. Atau jika tidak diketahui populasi pun dapat dihitung jumlah sampel yang diperlukan dalam suatu penelitian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top
Open chat