TEKNIK PENGUMPULAN DATA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Suatu penelitian memerlukan teknik pengumpulan data, baik kualitatif maupun kuantitatif. Tujuan utama suatu penelitian yaitu untuk mendapatkan data.

Berdasarkan hal ini maka teknik pengumpulan data menjadi langkah paling utama dalam suatu penelitian. Pengetahuan tentang teknik pengumpulan data sangat perlu bagi peneliti agar mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data baik untuk penelitian kuantitatif maupun kualitatif hampir sama, yang membedakan adalah jika penelitian kualitatif menggunakan wawancara dan penelitian kuantitatif menggunakan angket/kuesioner. Kesamaan teknik pengumpulan data penelitian kualitatif dan kuantitatif yaitu observasi dan dokumentasi.

Keempat teknik pengumpulan data tersebut diuraikan di bawah ini:

1. Observasi

Observasi merupakan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian. Dengan observasi ini maka peneliti dapat menemukan fakta di lapangan atau dunia nyata yang dapat digunakan sebagai data. Faisal (1990) membagi observasi menjadi 3 yaitu observasi berpartisipasi, observasi terang-terangan dan tersamar, serta observasi tidak berstruktur.

a. Observasi berpartisipasi. Observasi ini melibatkan peneliti dalam penelitian yang dilakukannya bersama sumber data. Dengan keterlibatan peneliti dalam observasi, maka peneliti langsung dapat merasakan berbagai pengalaman yang juga dialami sumber data, sehingga peneliti dapat lebih memahami serta mendapatkan data lebih lengkap dan tajam. Spradley membagi observasi ini menjadi 4 bagian yaitu:

1) Partisipasi pasif, yaitu peneliti mendatangi dan mengamati kegiatan sumber data akan tetapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut.

2) Partisipasi moderat, yaitu peneliti datang dan mengamati kegiatan sumber data dan ikut terlibat dalam kegiatannya meskipun tidak semuanya sehingga peneliti seimbang sebagai orang luar maupun orang dalam.

3) Partisipasi aktif, yaitu peneliti datang dan mengamati kegiatan sumber data serta secara ikut aktif dalam berbagai kegiatan yang dilakukan meskipun belum sepenuhnya lengkap.

4) Partisipasi lengkap, yaitu peneliti datang dan mengamati kegiatan sumber data serta sepenuhnya terlibat dalam kegiatan sumber data tersebut. Dalam hal ini peneliti seolah-olah tidak melakukan penelitian karena suasananya sudah terlihat alami seperti sumber data.

b. Observasi terang-terangan dan tersamar. Dalam observasi terang-terangan, peneliti menjelaskan bahwa tujuan observasi adalah untuk pengambilan data penelitian sehingga sumber data mengetahui sejak awal bahwa mereka menjadi pengamatan penelitian. Akan tetapi suatu kondisi memerlukan observasi tersamar agar data yang diamati terlihat natural dan tidak mengada-ada sehingga data yang diperoleh sesuai dengan keseharian di lapangan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data yang lebih valid dibanding observasi secara terang-terangan.

c. Observasi tidak berstruktur. Observasi ini merupakan observasi yang tidak didesain dan dipersiapkan terlebih dahulu karena peneliti belum dapat memastikan seperti apa permasalahan yang ada sehingga belum bisa menentukan tujuan penelitian. Dalam observasi ini memang tidak sistematis, akan tetapi tetap menggunakan rambu-rambu pengamatan.

Obyek yang dapat digunakan sebagai observasi yaitu tempat terjadinya interaksi sosial, pelaku yang sedang memainkan peran tertentu, dan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam suasana interaksi sosial. Ketiga obyek ini dapat diperluas menjadi beberapa obyek yaitu: (1) ruang dalam aspek fisiknya, (2) semua orang yang terlibat dalam interaksi sosial, (3) serangkaian aktivitas/kegiatan yang dilakukan orang/kelompok, (4) benda-benda yang terdapat di tempat tersebut, (5) perilaku, perbuatan, atau tindakan seseorang, (6) urutan kegiatan, (7) tujuan yang ingin dicapai orang-orang, dan (8) perasaan emosi yang diekspresikan oleh orang-orang.

Patton dalam Nasution (1988) menjelaskan beberapa manfaat observasi yaitu:

(1) Peneliti dapat memahami langsung situasi sosial yang terjadi sehingga mampu memperoleh pandangan yang menyeluruh.

(2) Peneliti dapat mengalami langsung suatu kondisi di lapangan sehingga peneliti dapat melakukan pendekatan induktif yang dapat membuka suatu penemuan-penemuan baru.

(3) Peneliti dapat menemukan berbagai hal yang tidak diamati oleh orang lain, khususnya yang menjadi obyek pengamatan karena mereka telah menganggap biasa apa yang ada di sekitar mereka yang juga tidak terungkap dengan wawancara.

(4) Peneliti dapat menemukan langsung apa yang tidak dapat dilakukan dengan wawancara karena wawancara belum tentu dijawab sesuai kenyataan di lapangan karena menjaga nama baik di lokasi penelitian.

(5) Peneliti tidak hanya mendapatkan data penelitian, akan tetapi juga pengalaman pribadi yang berkesan dan merasakan langsung situasi sosial yang diteliti.

Observasi dilakukan dengan 3 tahapan yaitu:

(1) Observasi Deskriptif. Observasi ini dilakukan pada saat peneliti memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Pada saat ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti sehingga peneliti melakukan penjelajah secara umum dan menyeluruh  sehingga dapat mendeskripsikan semua situasi melalui semua pancaindera baik dengan cara didengar, dilihat, dan dirasakan. Dengan observasi ini peneliti mendapatkan kesimpulan pertama,

(2) Observasi Terfokus. Pada tahap ini peneliti melakukan observasi yang telah difokuskan pada aspek tertentu.

(3) Observasi Terseleksi. Pada tahap ini peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga data yang didapatkan lebih rinci. Peneliti menemukan karakteristik, perbedaan maupun kesamaan antar kategori, serta menemukan hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain atau hipotesis.

2. Wawancara

Wawancara merupakan tanya jawab peneliti terhadap responden yang dilakukan secara tatap muka dengan tujuan untuk mendapatkan informasi sesuai dengan yang diinginkan. Wawancara dapat digunakan sebagai studi pendahuluan untuk menemukan masalah, selain itu juga digunakan untuk mengetahui secara mendalam mengenai diri responden. Berbagai macam wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, yaitu:

a. Wawancara Terstruktur. Wawancara ini digunakan jika permasalahan yang akan diteliti sudah jelas sehingga peneliti sudah tahu informasi yang akan dicari. Dalam wawancara ini peneliti sudah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis, bahkan alternatif jawabannya sudah disiapkan.

b. Wawancara Semiterstruktur. Wawancara ini termasuk dalam wawancara mendalam yang pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan wawancara terstruktur. Wawancara ini bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka misalnya dimintai pendapat atau ide yang dapat dicatat peneliti untuk digunakan sebagai data.

c. Wawancara Tak Berstruktur. Wawancara ini dilakukan dengan cara bebas sehingga peneliti tidak perlu menggunakan panduan wawancara yang sistematis dan lengkap. Peneliti hanya menggunakan poin-poin penting garis permasalahan yang akan ditanyakan kepada responden sehingga wawancara tak berstruktur dapat digunakan sebagai penelitian pendahuluan untuk mendapatkan informasi awal. Wawancara ini belum sepenuhnya dan pasti data apa yang akan diperoleh sehingga peneliti harus benar-benar memperhatikan keterangan yang disampaikan responden.

Dalam melakukan wawancara terdapat berbagai langkah yang dilakukan, terutama penelitian kualitatif yaitu:

a. Menentukan subyek yang menjadi sumber wawancara

b. Menyiapkan topik-topik atau pokok permasalahan yang akan menjadi pertanyaan kepada narasumber

c. Membuka dan mengawali alur wawancara dengan hal-hal yang ringan kemudian melangsungkan wawancara sesuai topik untuk mendapatkan data yang diinginkan.

d. Mengkonfirmasi rangkuman wawancara kepada narasumber dan menutup wawancara

e. Mencatat hasil wawancara ke dalam lembar catatan lapangan.

f. Menindaklanjuti hasil wawancara yang telah diperoleh (misalnya menganalisis dan membuat kesimpulan).

Berbagai jenis pertanyaan dapat menjadi bahan wawancara yaitu: (1) pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman, (2) pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat, (3) pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan, (4) pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan, (5) pertanyaan yang berkaitan dengan indera, dan (6) pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi (Patton dalam Moleong, 2002).

Berbeda dengan Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2002) yang mengklasifikasikan pertanyaan wawancara menjadi 10 jenis pertanyaan yaitu: (1) pertanyaan hipotesis, (2) pertanyaan yang berkaitan dengan sesuatu yang ideal dan memerlukan pendapat/respon narasumber, (3) pertanyaan yang memerlukan pendapat hipotesis narasumber sebagai alternatif, (4) pertanyaan interpretatif, (5) pertanyaan yang memberikan saran, (6) pertanyaan untuk mendapatkan suatu alasan, (7) pertanyaan untuk mendapatkan argumentasi, (8) pertanyaan untuk mengungkapkan sumber data tambahan, (9) pertanyaan yang berkaitan dengan suatu pengungkapan kepercayaan terhadap sesuatu, dan (10) pertanyaan yang mengarahkan narasumber untuk memberikan informasi tambahan.

Berbagai alat dalam pelaksanaan wawancara yaitu buku catatan, tape recorder, dan kamera.

3. Angket/kuesioner

Angket atau kuesioner merupakan pengumpulan data yang dilakukan terhadap partisipan dengan cara menjawab berbagai pernyataan/pertanyaan tertulis yang tercantum dalam lembar kuesioner yang diajukan oleh peneliti. Setelah responden mengisinya kemudian mengembalikan kepada peneliti.

Penulisan angket pun harus memenuhi beberapa prinsip, yaitu menyangkut isi dan tujuan pertanyaan, penggunaan bahasa yang mudah dipahami, pertanyaan tertutup dan terbuka, negatif-positif, pertanyaan tidak ambigu, bukan merupakan pertanyaan yang sudah tidak diingat responden, pertanyaan tidak menjurus, jumlah pertanyaan dan panjang kalimat, serta pertanyaan yang urut.

4. Dokumentasi

Dokumen merupakan suatu catatan dari kejadian/peristiwa di masa lampau. Berbagai bentuk dokumen yang umum antara lain tulisan, foto/gambar, dan karya monumental. Dokumen dalam bentuk tulisan pun dapat berbentuk macam-macam antara lain diary, otobiografi, biografi, kebijakan/peraturan/regulasi dan sebagainya, sedangkan karya monumentasl seperti patung, film dan sebagainya. Adanya dokumen membantu untuk menguatkan wawancara dan observasi sebagai bukti data. Akan tetapi perlu dicermati bahwa foto atau gambar harus mencerminkan keadaan aslinya, dan bukan rekayasa.

Untuk memudahkan memahami langkah-langkah penelitian tersebut, konsultan dapat membantu menjelaskannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top
Open chat