KONFLIK

Dalam kehidupan manusia, tidak lepas dari suatu konflik. Para ahli telah merumuskan suatu teori konflik, baik pengertian, sebab dan sumbernya maupun jenisnya. Definisi konflik menurut Taquiri yang dikutip oleh Newstorm dan Davis (1997) yaitu merupakan warisan kehidupan sosial yang berlaku dalam berbagai keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih secara berlanjut. Definisi lain dikemukakan oleh Pace dan Faules (1994) dimana konflik merupakan ekspresi pertikaian antara satu individu dengan individu yang lain, kelompok satu dengan kelompok yang lain yang dipicu oleh suatu alasan.  Dalam definisi ini dipahami bahwa pertikaian menunjukkan adanya perbedaan dua individu/kelompok atau lebih yang diekspresikan, diingat maupun dialami.

Minnery mengemukakan pendapat mengenai konflik yang berhubungan dengan organisasi. Menurutnya, konflik dalam suatu organisasi merupakan hubungan/interaksi antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, atau individu satu dengan individu yang lain yang memiliki ketergantungan satu sama lain, akan tetapi memiliki perbedaan tujuan.

Munculnya konflik disebabkan oleh beberapa hal. Robbins berpendapat bahwa munculnya suatu konflik dilatarbelakangi oleh 3 sumber yaitu komunikasi, struktur, dan variabel pribadi. Komunikasi yang buruk merupakan komunikasi yang menimbulkan kesalahpahaman antara pihak-pihak yang terlibat. Kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi anteseden yang menciptakan konflik. Sumber konflik lainnya yaitu struktur, yang dalam konteks ini mencakup ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok satu dengan yang lainnya. Sumber konflik lain yang potensial adalah faktor pribadi yang meliputi sistem nilai yang dimiliki oleh setiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan dan berbeda dengan individu yang lainnya.

Kreps juga mengemukakan beberapa pusat konflik sebagai penyebab utamanya yaitu tujuan yang akan dicapai, alokasi sumber-sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat. Untuk lebih jelasnya dijabarkan sebagai berikut:

  1. Dilihat dari sisi persaingan terhadap sumber-sumber daya yang langka, setiap individu dalam suatu organisasi menginginkan sehingga timbul suatu persaingan untuk memperebutkannya. Alokasi sumber daya yang banyak agar bisa mempercepat pertumbuhan, kemajuan, dan pengembangan dalam divisinya. Persaingan inilah yang memicu timbulnya konflik yang diakibatan ketersediaan sumber daya yang langka.
  2. Dalam suatu organisasi pasti ada ketergantungan tugas antara satu sama lain atau suatu kelompok dengan kelompok lain untuk mencapai kesuksesan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Jika kedua belah pihak berbeda prioritas maka kemungkinan munculnya konflik semakin besar. Konflik juga dapat disebabkan suatu keinginan dari kedua belah pihak untuk mencapai otonomi tanpa harus bergantung dengan pihak yang lain. Perbedaan yang dipertahankan memungkinkan suatu konflik tetap terjadi bahkan berlangsung lama. Konflik pada umumnya muncul dari dua departemen berbeda yang saling tergantung dan sangat terspesialisasi.
  3. Dalam suatu organisasi, dapat muncul suatu kekaburan batas-batas bidang kerja. Konflik dapat timbul dari kekaburan batas-batas tersebut, dimana seseorang atau suatu kelompok mendominasi bagiannya. Jika dapat berhasil dan memperoleh suatu prestasi maka seolah-olah pekerjaan merupakan hasil kerjanya. Jika terdapat kesalahan atau kegagalan maka akan melemparkan pada pihak atau orang lain. Konflik juga muncul dari seseorang yang hanya melakukan suatu pekerjaan yang disukainya, sementara pekerjaan yang tidak disukainya enggan dikerjakan dan dilimpahkan kepada orang lain. Pada dasarnya, seseorang akan merasa menjadi penting dalam dalam kegiatan organisasi.
  4. Imbalan atas suatu kemajuan perusahaan juga menjadi pemicu konflik. Hal ini dapat terjadi terhadap kegiatan evaluasi dan monitoring sub divisi, dimana tuntutan yang terjadi terhadap setiap divisi berbeda. Misalnya produksi dan penjualan, dimana bagian produksi dituntut meningkatkan jumlah produk oleh divisi penjualan dan sebaliknya penjualan dituntut oleh produksi untuk meningkatkan penjualannya. Hal ini menyebabkan bagian produksi tidak menerima bonus karena meningkatnya biaya produksi, selain itu karyawan bagian produksi harus lembur  untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kondisi seperti inilah yang dapat memicu konflik.
  5. Adanya perbedaan tujuan dan prioritas setiap sub atau divisi juga memicu konflik. Masing-masing divisi akan mengutamakan kepentingan untuk mencapai tujuannya masing-masing. Bahkan suatu divisi yang sangat ingin mencapai kepentingannya dapat menghalangi divisi lainnya dalam mencapai tujuan.

Dalam kehidupan di sekitar kita, konflik pun banyak terjadi yang memunculkan berbagai jenis konflik yang dapat dibawa ke ranah hukum, baik perdata maupun pidana.

Daftar Pustaka

Newstorm, J.W dan Keith Davis. 1997. Organizational Behavior: Human Behavior at Work. Mc.Graw-Hill Companies

Limbong, B. 2012. Konflik Pertanahan. Jakarta: Margaretha Pustaka

Kreps, G.L. 1986. Organizational Communication: Theory and Practice. New York: Longman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top
Open chat